Namaku Bisek, si biola gesek
Aku dicipta untuk sebuah konser kehidupan
Kurawat lekuk tubuhku,
agar bertekuk lutut mata-mata keranjang
kala menyaksikan aksi panggungku
Leher dawaiku penuh kilau,
menjadikanku kian memukau
Sang Maestro berkata:
“Let the concert begin!”
Perlahan tongkatnya mulai menggesek dawaiku
“…ngok..ngek…” terdengar suara ngorok si bengek
Sang Maestro jadi penasaran,
“What’s wrong with you,, My Violin?”
Ia pun mulai serius,
jemarinya makin kuat menekan ruas-ruas dawaiku,
gesekannya pun bertambah kencang,
emosional dan terasa menyakitkan….
“Stop! Hentikan!! Nanti senarku putus!!!” seruku ketus
Namun seolah tuli, ia berlagak tidak peduli
“Tidaaaakkkk, cukuup…..!!!”
Mendengarku berteriak “tidak cukup”,
Ia tersenyum, dan malah kian menggila
Hingga pada suatu titik,
permainannya pun berhenti, “Hhuuhh…finally…”
Sontak pecahlah sorak
tepukan dan siulan, salut diberikan
Rupanya penonton terpana
mendengar suaraku yang mempesona
Dari diriku yang ‘tersiksa’
lahir melodi yang luar biasa
Tanpa kusadar,
’siksaan’ Sang Maestro
telah mampukanku lalui konser kehidupan
Aku yang dahulu sumbang
kini mampu mainkan tembang
Akhirnya kusadar,
Maestroku adalah seorang piawai
yang terlahir mahir mainkan dawai
Dia bukan amatir, jadi apa perlu aku kuatir??
“No matter what problems that we are having now,
let’s just trust in Him,
because He is the Maestro of our ‘living concert’.
May us be the violins who know The Maestro well.”
GBU
