The Violin

•September 10, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Namaku Bisek, si biola gesek

Aku dicipta untuk sebuah konser kehidupan

Kurawat lekuk tubuhku,

agar bertekuk lutut mata-mata keranjang

kala menyaksikan aksi panggungku

Leher dawaiku penuh kilau,

menjadikanku kian memukau

 

Sang Maestro berkata:

Let the concert begin!”

Perlahan tongkatnya mulai menggesek dawaiku

…ngok..ngek…” terdengar suara ngorok si bengek

Sang Maestro jadi penasaran,

What’s wrong with you,, My Violin?”

Ia pun mulai serius,

jemarinya makin kuat menekan ruas-ruas dawaiku,

gesekannya pun bertambah kencang,

emosional dan terasa menyakitkan….

Stop! Hentikan!! Nanti senarku putus!!!” seruku ketus

Namun seolah tuli, ia berlagak tidak peduli

Tidaaaakkkk, cukuup…..!!!”

Mendengarku berteriak “tidak cukup”,

Ia tersenyum, dan malah kian menggila

Hingga pada suatu titik,

permainannya pun berhenti, “Hhuuhh…finally…

 

Sontak pecahlah sorak

tepukan dan siulan, salut diberikan

Rupanya penonton terpana

mendengar suaraku yang mempesona

Dari diriku yang ‘tersiksa’

lahir melodi yang luar biasa

 

Tanpa kusadar,

’siksaan’ Sang Maestro

telah mampukanku lalui konser kehidupan

Aku yang dahulu sumbang

kini mampu mainkan tembang

 

Akhirnya kusadar,

Maestroku adalah seorang piawai

yang terlahir mahir mainkan dawai

Dia bukan amatir, jadi apa perlu aku kuatir??

 

No matter what problems that we are having now,

let’s just trust in Him,

because He is the Maestro of our ‘living concert’.

May us be the violins who know The Maestro well.”

GBU

 

 

 

 

 

 

 

Forgiving Quotes

•Juni 17, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam kamus keterlambatan selalu ada kata maaf,
namun dalam kamus memaafkan tidak ada kata terlambat.

Jangan jadi orang yang lebih mudah melupakan nama seseorang ketimbang kesalahannya.

Memori kita sudah nyaris penuh bila diisi dengan ingatan akan dosa sendiri, jadi tidaklah perlu menambahinya dengan ingatan akan dosa orang lain.

Kar’na kesalahan mengingat, janji bisa berakhir batal.
Kar’na mengingat-ingat kesalahan, relasi bisa berakhir fatal.

Waktu terbaik untuk sarapan adalah saat pagi hari.
Waktu terbaik untuk menikmati sunset adalah saat matahari terbenam.
Dan waktu terbaik untuk melupakan kesalahan orang lain adalah saat Anda ingat.

Bila Anda tetap tak mau melupakan kesalahan orang lain,
maka ‘maklumi’ TUHAN bila Ia membuat Anda pikun.

Si Peyot di Kursi Reyot

•Juni 13, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ia terlelap..
ngiler dan mangap…
Bersama alunan si kursi reyot ia terseret
ke alam mimpi kaya fantasi khas lelaki

Sesekali mimiknya merintih,
kala kenangan masa perangnya menghantui
Seketika lesung kempotnya berseri
saat terbayang mendiang sang istri

Ku terus tatap wajah keriput itu
Wajah penuh pahit getir dan asam garam dunia ini
Tiap kerut di dahi punya kisah mereka sendiri

Di wajah pulas itu
kutemukan masa lalu
Masa-masa penuh peluh dan pilu
yang membuatku merinding ngilu

Sungguh berat jerih juangmu
demi hidup dan kehidupan
Begitu singkat mudamu
kauhabiskan bersama waktu

Sekarang, istirahat semaumu, Kek!
Nikmati mimipimu…hingga malaikat menjemputmu…
Aku takkan membangunkanmu

Sayembara di Surga

•Juni 12, 2008 • 1 Komentar

Suatu ketika Surga menggelar sayembara, gemanya menggemparkan nusantara. “Urgently required!” seru Mikael (malaikat berkebangsaan Inggris). Dicari: seorang laskar dan seorang pejuang yang akan ditempatkan di bawah pimpinan Kristus, Sang Anak Allah. WooW! Sungguh suatu kebanggaan dan kehormatan yang tak tertandingi bila dapat terpilih! Tak heran, kompak serempak seluruh warga nusantara berdesakan mendaftar, rapih berbaris dalam waiting list. Tibalah giliran pertama.
Muncullah seorang pendekar. Dengan percaya diri yang berkelimpahan ia berkata: “Dengan jurus-jurus yang telah kuhafalkan dan kulatih dari masa ke masa, aku yakin seyakin-yakinnya, pastilah aku yang paling cucok untuk menjadi laskar Kristus!”. Namun dengan lirih Mikael berkata: “Tue pu chi Mr. Lee, bukan Anda yang kami cari. Say sayonara to this sayembara, sampai jumpa lagi.”. Next!
Majulah seorang milyarder, yang kalo ngitung duit keder (saking banyaknya). Katanya seraya mengipas-ngipas gepokan gobanan: “Dengan harta yang kumiliki ini, rasanya akulah yang paling layak duduk di kursi pejuang di bawah pimpinan Kristus. Bahkan dengan uangku, aku bisa menjadi investor asing di tanah Surga ini!” Lalu sahut Mikael: “I’m really sorry Mr. Richie, tapi saya rasa uang Anda saja takkan cukup untuk biaya peremajaan Jl. Raya Surga Blok H1 yang beraspalkan emas ini. Bye-bye, please check your belongings and step carefully, thank you.” Next, next…
Lalu datanglah seorang belia menuntun seorang lansia (mungkin engkongnya). Anak belia ini berkata: “Aku tak punya apa-apa Pak Mikael, tapi aku pengen banget jadi laskarnya Tuhan. Kapan saja Tuhan butuh dan mau pakai aku, aku akan siap sedia.” Kemudian sang kakek menyambung: “Iya, saya juga Nak Mikael, saya orang ngga punya. Tapi sebagai rasa sukur saya sama Tuhan selama hidup saya, ijinkan saya jadi pejuangnya Tuhan. Saya akan mengabdi, saya akan setia.” Ehm…ehm… sambil terharu malaikat Mikael berkata: “Bapak-bapak, ibu-ibu yang saya kasihi di dalam Tuhan, saya rasa sayembara kali ini telah selesai. Silakan bapak ibu pulang dan mempersiapkan diri untuk sayembara berikutnya. Bubar jalan!” A…apa?? What?? Warga pun terus bertanya-tanya. How come Mr. Mikael??
Kemudian dengan penuh wibawa dan mulia, Kristus bangkit dari takhta-Nya dan berkata: “Tatkala aku mencari laskar, aku bukan cari yang kekar, atau yang sudah pakar. Ketika aku mencari pejuang, aku juga tidak mencari yang beruang. Yang kucari adalah hati. Tak peduli belia atau lansia, asalkan s’lalu sedia serta setia.”

Payung Kertas Koran

•Desember 31, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hari itu, matahari sedang obral besar-besaran. Panasnya diumbar habis sampai-sampai si kulkas turut kegerahan. Saking teriknya, siang itu pun menjadi bolong.
Layaknya anak yang baik, aku duduk manis melipat tangan di kamarku yang sumpek. Bosan!! Ingin main diluar, tapi tak beroleh izin…
“ Bu, aku main sepeda ya? ” kataku.
Sahut ibuku, “ Jangan Nak, nanti kau hitam, terus mimisan! “
Lalu ku bilang, “ Tenang Bu, aku bawa payung kertas koran kok! “
“ Jangan Nak, payung itu takkan sanggup melindungimu! “ kata ibuku.
Dan aku pun membalas, “ Don’t worry Bu, payung itu buatanku, jadi pastilah ia sekuat aku! “
Ibuku tetap saja melarang, “ Jangan, lagipula ibu dengar nanti akan turun hujan lho! ”
Lalu kutanggapi dengan sombong, “ Jangankan hujan Bu, dengan payungku ini badai dan ombak sekalipun akan kuterjang tiada takut! Bukankah nenek moyangku seorang pelaut…?? “
Ibuku tetap bersikeras, “ Jangan Nak…! “
Akhirnya meski tanpa restu ibunda, aku nekat pergi juga, “ Daa Ibu…!! “
Diatas sepedaku, kulompati pagar berkawat…& mulai mengayuh. Wah, siang ini benar-benar ‘hot’ rupanya. Ubun-ubunku mulai hangat, kulit kepala mulai berkeringat. Tapi tenang, aku bawa payung…payung kertas koran!!
Penuh percaya diri, kuberaksi dengan payungku, jebret…!! Lumayan, walau nampak seperti ‘Sarimin pergi ke pasar’ setidaknya ketombeku takkan menghangus. Tak lama kemudian, langit nampak muram…lalu, tes..tes..tes.. berdatangan bayi-bayi air dan mulai merangkak-rangkak diatas payung koranku, mereka menamakan diri mereka: gerimis. Bagiku mereka bukan masalah, paling-paling mereka hanya melunturkan tinta-tinta tulisan yang tertera pada kertas koranku. No problema..!
Sambil bersiul ku menggoes pedal, nikmati rintikan gerimis mengglitik. Namun tiba-tiba, ada yang menyambar atap koranku! Aku pun berteriak : “ Copet, maling, jambret! “. Lho, kok tak ada siapa-siapa ya? Ternyata adalah segelintir petir yang bertanggungjawab atas bumihangusnya atap payung kertas koranku. Kini yang kugenggam tinggallah gagang, yang nampak garing karna terpanggang.
Hujan badai kian menggila. Bayi-bayi gerimis telah menjelma tumbuh dewasa. Mereka mengguyur, menertawakan, serta mengajak angin ribut mencemooh keadaanku. Sekarang aku kedinginan, malu, lapar, serta terserang flu.. haacii..haaacuii…!!

Kapok? Ya, itulah akibatnya kalau kita keras kepala. Seringkali kita terlampau sombong & ‘ogah’ mendengarkan nasehat dari orang tua, sahabat, kekasih, bahkan nasehat dari TUHAN kita sendiri. Nasehat-nasehat baik mereka kita tolak mentah-mentah dan justru kita hanya mengandalkan kemampuan kita sendiri yang sebenarnya hanyalah sebuah ‘payung kertas koran’. Kita malah merasa ‘sok kuat’, padahal nyatanya tidaklah demikian. Ingatlah, kita ini makhluk yang terbatas dan kaya akan kelemahan. Jadi, janganlah ‘sok berjalan sendirian’…Baiklah kita boleh berkata : “ Aku kuat… aku kuat bila ada di dalam TUHAN…! “ ( Efesus 6 : 10 )

Halo dunia!

•Desember 18, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!